Ramadhan yang bertabur dengan keberkahan. Limpahan rahmat-Nya mengalir deras. Allah swt tak segan-segan melipatgandakan segala amal kebaikan yang dilakukan oleh manusia. Namun seringnya kita lalai dari mengingat-Nya.

Ada semacam alarm yang harus dideringkan dengan keras untuk memberikan peringatan pada diri ini yang sudah lama berkubang pada dosa. Alarm yang harus dihidupkan selalu untuk membantu diri yang sering lalai dari mengingat-Nya. Alarm yang mampu membangunkan seluruh anggota tubuh ini untuk bergegas menuju mihrab-Nya. Kembali menghamba kepada-Nya.

Ramadhan ini hanya sebentar. Kita tak akan mengira bila waktu bergerak dengan cepat. Hanya satu bulan. Itu pun kadang tak genap. Bisa dua puluh sembilan atau tiga puluh hari. Tapi kita sering meremehkannya. Menganggap bahwa tahun depan ia masih datang menjumpai kita. Padahal belum tentu demikian.

Ramadhan yang sebentar ini, mengapa tak kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya? Mengapa kita seringkali terpedaya dengan kesenangan duniawi yang ditawarkan dari kedatangan bulan Penuh Cinta ini? Acara buka puasa bersama, misalnya. Kita seringkali terlena dengan nikmatnya berkumpul bersama para sahabat dan kawan lama yang sudah jarang berjumpa. Kita tak sungkan untuk meng-skip sholat maghrib bahkan isya hingga tarawih hanya karena kita tak ingin kehilangan setiap momen yang tercipta disana.

Penyesalan. Ya! Hanya penyesalan yang akhirnya datang menghampiri ketika Ramadhan itu telah pergi meninggalkan kita. Hanya kesedihan yang akhirnya menggelayuti hati ketika Ramadhan pamit tanpa kita bisa memaknainya. Berharap berjumpa tahun depan? Tentu ini tawaran yang sangat menggiurkan. Ketika Ramadhan usai dan berganti dengan Syawal, maka do’a-do’a yang kita panjatkan tak ubahnya seperti tetesan air yang jatuh membasahi bumi dengan derasnya. Semua bermunajat untuk bisa dipertemukan lagi dengan Ramadhan tahun depan. Langit penuh dengan permintaan yang bertebaran dari seluruh penjuru bumi. Sementara kita seolah tak punya rasa malu karena sudah mengabaikan Ramadhan tahun ini namun masih berharap untuk bertemu lagi dengannya ditahun depan. Astaghfirullah!

Jangan salahkan siapapun jika pada akhirnya Ramadhan pergi tanpa meninggalkan jejak di relung hati kita. Jangan salahkan siapapun jika pada akhirnya ia pergi tanpa memberikan kesan terindah dalam hidup kita. Jangan salahkan siapapun jika pada akhirnya ia pergi tanpa meninggalkan bekas yang mendalam di jiwa kita.

Kita yang lalai. Kita yang terlalu angkuh. Kita yang terlalu sibuk dengan urusan duniawi sampai lupa bagaimana memperlakukannya sebagaimana ia adalah tamu yang agung bagi kita. Kita yang terlalu larut dalam euforia menyambut Ramadhan sampai akhirnya kita tak sempat bekali diri untuk menghadapi bulan yang penuh keberkahan itu sendiri. Kita terlalu fokus pada hal-hal yang seharusnya tak menjadi fokus kita. Kita lebih memilih sibuk mempersiapkan acara-acara penunjang daripada ibadah-ibadah sunnah yang seharusnya kita laksanakan.

Ramadhan yang semakin kelabu kala Izrail datang mengambil roh yang bersemayam dalam tubuh kita. Ia datang tanpa undangan. Datang tanpa ada pemberitahuan. Kedatangannya yang tiba-tiba seringkali membuat kita tak siap untuk hadapinya. Kita seolah belum ingin pergi dari dunia karena diri ini masih berlumur dengan dosa. Amalan yang belum seberapa dan ritual ibadah yang masih begitu-begitu saja, membuat diri kita takut untuk menghadap-Nya.

Alhasil, inilah Ramadhan terakhir bagi kita. Ramadhan yang belum sempat kita isi dengan kebaikan-kebaikan yang maksimal. Ramadhan yang sering kita lalaikan. Ramadhan yang seringkali kita jadikan sebagai bahan candaan karena Allah swt masih beri kita kesempatan. Ramadhan yang belum bisa kita maknai dengan sepenuh hati.

Ah, Ramadhan! Bulan yang datangnya setahun sekali. Bulan yang sangat diberkahi dari sebelas bulan yang lainnya. Bulan yang didalamnya tergambar jelas pahala yang melimpah ruah. Ramadhan yang penuh dengan rahmat dan ampunan yang berlipat. Apa masih kurang itu semua? Mari merenung sejenak. Mari bermuhasabah sebentar.